![]() |
Mengutip website Kementerian Kesehatan, sejarah perbaikan gizi di Indonesia dimulai sejak tahun 1950, saat Menteri Kesehatan, Dokter. J. Leimena, mengangkat Prof. Poorwo Soedarmi menjadi Kepala Lembaga Makanan Rakyat (LMR). Lembaga yang dikenal dengan nama Instituut Voor Volksvoeding (IVV) merupakan bagian dari lembaga penelitian kesehatan nasional. Berkat dedikasinya dalam memperbaiki gizi masyarakat Indonesia, Prof. Poorwo dikenal sebagai Bapak Gizi Indonesia.
Di bawah kepemimpinannya, LMR berperan besar sebagai penggerak berbagai program perbaikan gizi. Pencapaian penting, LMR adalah saat pengkaderan tenaga gizi Indonesia melalui pendirian Sekolah Juru Penerangan Makanan (SJPM) pada 25 Januari 1951. Tanggal inilah yang ditetapkan sebagai HGN, sekaligus menandai awal perkembangan pendidikan tenaga gizi di Indonesia. Sementara itu, peringatan HGN pertama kali diadakan pada tahun 1960.
HGN 2026, HGN mengusung tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal” dengan slogan “Sehat Dimulai dari Piringku”. Tema dan slogan ini menegaskan pentingnya pemanfaatan pangan lokal beragam sebagai sumber gizi seimbang, sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk memulai pola hidup sehat dari pilihan makanan sehari-hari.
Indonesia memiliki pangan lokal beragam, yang kaya gizi, mudah didapat, dan terjangkau. Berbagai jenis pangan lokal, seperti umbi-umbian, daging sapi lokal, ikan, serealia lokal, kacang-kacangan, sayuran, dan buah-buahan terbukti mampu memenuhi gizi saat dikonsumsi secara seimbang.
Pemanfaatan pangan lokal tidak hanya mendukung kecukupan gizi dan tumbuh kembang anak, tetapi juga berperan dalam mencegah stunting. Selain itu konsumsi pangan lokal juga berkontribusi pada penguatan ketahanan pangan nasional, peningkatan kesejahteraan petani lokal, dan melestarikan pangan daerah.
Kandungan Gizi Seimbang dan Harga Terjangkau
Banyak pangan lokal memiliki gizi setara, bahkan ada beberapa jenis yang lebih unggul, dibandingkan pangan impor dengan harga yang tentunya lebih murah. Ikan kembung misalnya, Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI), Kementerian Kesehatan menunjukkan, ikan kembung mengandung protein dan omega-3 yang setara dengan ikan salmon, tetapi dengan harga yang enam kali lebih murah.
Contoh lainnya, kacang tanah lokal dan kacang almond impor yang memiliki kandungan protein yang setara. Ada juga beras merah lokal yang memiliki kandungan serat, vitamin B kompleks, dan antioksidan lebih tinggi dari beras jepang. Berbagai fakta ini menunjukkan bahwa pemenuhan gizi berkualitas tidak harus mahal.
Ayo kita konsumsi pangan lokal karena pangan lokal dapat menjadi andalan, stunting bisa dicegah dari sekarang.***
