![]() |
PARENTINGABAD21.COM -- Menjadi orang tua adalah pengalaman yang membahagiakan sekaligus menantang, terutama bagi orang tua baru. Rasa cinta yang besar sering kali disertai dengan kekhawatiran, kebingungan, dan keinginan untuk melakukan yang terbaik bagi anak. Namun, tanpa disadari, banyak orang tua baru melakukan kesalahan pola asuh yang justru dapat memengaruhi perkembangan anak, baik secara emosional, sosial, maupun mental.
Kesalahan ini umumnya bukan karena niat buruk, melainkan karena kurangnya pengalaman, tekanan lingkungan, atau informasi parenting yang keliru. Artikel ini akan membahas kesalahan pola asuh yang paling sering dilakukan orang tua baru, dampaknya bagi anak, serta cara menghindarinya agar pengasuhan menjadi lebih sehat dan seimbang.
1. Terlalu Takut Anak Mengalami Kesulitan
Banyak orang tua baru merasa tidak tega melihat anaknya menangis, gagal, atau kecewa. Akibatnya, mereka cenderung terlalu melindungi anak dan berusaha menghilangkan semua rasa tidak nyaman dalam hidup anak.
Padahal, menghadapi kesulitan ringan adalah bagian penting dari proses belajar anak. Ketika anak selalu diselamatkan, ia tidak memiliki kesempatan untuk belajar menyelesaikan masalah, mengelola emosi, dan membangun ketahanan mental.
Cara menghindarinya: Dampingi anak saat menghadapi kesulitan, bukan langsung mengambil alih. Biarkan anak mencoba, gagal, lalu belajar dengan dukungan orang tua.
2. Tidak Konsisten dalam Aturan
Kesalahan umum lainnya adalah ketidakkonsistenan dalam menerapkan aturan. Hari ini suatu perilaku dilarang, tetapi besok dibiarkan. Atau ayah dan ibu memiliki aturan yang berbeda.
Ketidakkonsistenan membuat anak bingung tentang batasan yang berlaku. Anak jadi sulit memahami mana yang benar dan salah, serta cenderung menguji batas secara terus-menerus.
Cara menghindarinya: Buat aturan sederhana, jelas, dan disepakati bersama pasangan. Terapkan secara konsisten dengan pendekatan yang tenang.
3. Terlalu Fokus pada Hasil, Bukan Proses
Orang tua baru sering kali bangga ketika anak cepat bisa membaca, berhitung, atau melakukan sesuatu lebih cepat dari anak lain. Tanpa sadar, mereka mulai menekan anak untuk mencapai hasil tertentu.
Fokus berlebihan pada hasil dapat membuat anak merasa tertekan, takut gagal, dan kehilangan motivasi intrinsik untuk belajar.
Cara menghindarinya: Hargai usaha anak, bukan hanya pencapaiannya. Ajarkan bahwa proses belajar sama pentingnya dengan hasil akhir.
4. Membandingkan Anak dengan Anak Lain
“Anak tetangga sudah bisa ini,” atau “sepupumu lebih pintar,” adalah kalimat yang sering diucapkan tanpa disadari. Membandingkan anak dengan anak lain merupakan kesalahan pola asuh yang berdampak besar pada kepercayaan diri anak.
Setiap anak memiliki kecepatan perkembangan dan keunikan masing-masing. Perbandingan justru membuat anak merasa tidak cukup baik.
Cara menghindarinya: Fokus pada perkembangan anak sendiri. Bandingkan anak dengan dirinya di masa lalu, bukan dengan orang lain.
5. Kurang Mendengarkan Anak
Dalam keinginan untuk mendidik, orang tua baru sering lebih banyak memberi nasihat daripada mendengarkan. Ketika anak bercerita, orang tua langsung menghakimi, memotong, atau menganggap sepele perasaannya.
Hal ini membuat anak enggan terbuka dan merasa tidak dipahami.
Cara menghindarinya: Latih diri untuk mendengarkan secara aktif. Biarkan anak menyampaikan perasaannya tanpa langsung disela atau dihakimi.
6. Menggunakan Hukuman Berlebihan
Sebagian orang tua baru masih mengandalkan hukuman keras, baik secara verbal maupun fisik, dengan alasan agar anak “jera”. Padahal, hukuman berlebihan tidak mengajarkan anak memahami kesalahan, melainkan hanya menumbuhkan rasa takut.
Dalam jangka panjang, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang tertutup, agresif, atau justru mudah berbohong.
Cara menghindarinya: Gunakan disiplin positif. Jelaskan konsekuensi secara logis dan ajarkan anak bertanggung jawab atas tindakannya.
7. Terlalu Mengikuti Omongan Orang Lain
Orang tua baru sering dibanjiri saran dari keluarga, teman, hingga media sosial. Akibatnya, mereka menjadi ragu dengan keputusan sendiri dan terlalu mudah terpengaruh.
Setiap keluarga memiliki kondisi dan nilai yang berbeda. Apa yang cocok untuk satu anak belum tentu cocok untuk anak lain.
Cara menghindarinya: Saring informasi dengan bijak. Jadikan nilai keluarga dan kebutuhan anak sebagai acuan utama dalam mengambil keputusan.
8. Kurang Memberi Contoh yang Baik
Anak belajar terutama dari apa yang ia lihat, bukan hanya dari apa yang ia dengar. Kesalahan yang sering terjadi adalah orang tua menuntut anak berperilaku baik tanpa memberi contoh nyata.
Misalnya, melarang anak bermain gawai tetapi orang tua sendiri terus memegang ponsel.
Cara menghindarinya: Jadilah role model. Perilaku orang tua adalah pelajaran paling kuat bagi anak.
9. Mengabaikan Kebutuhan Emosional Anak
Sebagian orang tua baru lebih fokus pada kebutuhan fisik seperti makan, tidur, dan kesehatan, tetapi lupa memperhatikan kebutuhan emosional anak.
Pelukan, perhatian, dan validasi emosi sangat penting untuk membangun rasa aman dan kelekatan anak.
Cara menghindarinya: Luangkan waktu untuk quality time, berikan afeksi, dan akui perasaan anak, baik saat senang maupun sedih.
10. Menuntut Kesempurnaan dari Diri Sendiri
Kesalahan terakhir, namun sering terjadi, adalah orang tua baru menuntut diri sendiri untuk selalu sempurna. Ketika merasa gagal, orang tua menjadi stres, mudah marah, dan kelelahan.
Padahal, parenting adalah proses belajar sepanjang waktu.
Cara menghindarinya: Terima bahwa tidak ada orang tua yang sempurna. Belajar dari kesalahan dan terus memperbaiki diri adalah bagian dari pengasuhan yang sehat.
Kesalahan pola asuh adalah hal yang wajar, terutama bagi orang tua baru. Yang terpenting bukanlah menjadi orang tua yang sempurna, melainkan menjadi orang tua yang mau belajar, reflektif, dan penuh kasih.
Dengan mengenali kesalahan-kesalahan umum dalam pola asuh, orang tua dapat lebih sadar dalam mendidik anak dan menciptakan lingkungan yang aman, hangat, serta mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Ingatlah, anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Anak membutuhkan orang tua yang hadir, peduli, dan mau bertumbuh bersama mereka.***
