Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak Usia Dini

Notification

×

Kategori Posting

Cari Postingan

Iklan

Iklan

Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak Usia Dini

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:50 WIB Last Updated 2026-02-05T00:51:44Z


PARENTINGABAD21.COM --
Dulu saya berpikir tugas utama ayah adalah bekerja, memenuhi kebutuhan keluarga, lalu pulang membawa rasa lelah. Urusan mengasuh anak? Itu wilayah ibu. Saya baru benar-benar mempertanyakan pemikiran itu pada suatu malam ketika anak saya terbangun dan menangis, lalu dengan suara lirih memanggil, “Ayah…”


Saat saya menggendongnya, tangisnya perlahan reda. Di pelukan itu, saya sadar: kehadiran ayah bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan emosional anak sejak dini.


Pengalaman itulah yang mengubah cara pandang saya tentang peran ayah dalam pengasuhan anak usia dini. Peran ini jauh lebih besar, lebih dalam, dan lebih bermakna daripada yang sering kita bayangkan.


Ayah Bukan Asisten Ibu, tapi Orang Tua Sepenuhnya


Dalam banyak budaya, ayah masih sering diposisikan sebagai “pembantu” ibu dalam pengasuhan. Jika ayah mengganti popok atau menenangkan anak, ia dianggap membantu. Padahal, mengasuh bukan bantuan—itu tanggung jawab bersama.


Anak usia dini tidak melihat pembagian peran berdasarkan gender. Yang mereka rasakan adalah:


Siapa yang hadir saat mereka butuh


Siapa yang mendengarkan tangis dan cerita mereka


Siapa yang memberi rasa aman


Ketika ayah terlibat aktif sejak awal, anak tumbuh dengan pemahaman bahwa kasih sayang datang dari kedua orang tuanya.


1. Ayah sebagai Sumber Rasa Aman Emosional


Saya pernah berpikir anak hanya butuh ibunya untuk merasa aman. Ternyata tidak sepenuhnya benar. Anak juga membangun rasa aman melalui figur ayah—dengan cara yang khas.


Ayah sering hadir dengan:


Pelukan yang kuat


Suara yang menenangkan


Sikap protektif


Ketika ayah responsif terhadap tangisan dan kebutuhan anak, anak belajar bahwa dunia adalah tempat yang bisa dipercaya. Rasa aman ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan emosi dan mental anak di masa depan.


2. Ayah Membantu Anak Mengenal Dunia dengan Berani


Dari pengalaman saya, ayah sering berperan sebagai “pendorong keberanian”. Saya mengajak anak mencoba hal baru—bersepeda, memanjat, bermain di luar rumah—tentu dengan batasan yang aman.


Pendekatan ini membantu anak:


Mengembangkan kepercayaan diri


Berani mengambil tantangan


Belajar mengelola risiko


Anak yang mendapat dukungan ayah cenderung lebih percaya diri menghadapi lingkungan baru karena ia tahu ada sosok yang siap menopangnya jika jatuh.


3. Ayah sebagai Teladan Regulasi Emosi


Anak usia dini belajar bukan dari nasihat panjang, tetapi dari contoh nyata. Saya menyadari, cara saya mengelola emosi diamati dengan saksama oleh anak saya.


Ketika saya:


Marah dan membentak


Menyembunyikan emosi tanpa penjelasan


Atau justru mampu menenangkan diri dan meminta maaf


Anak menyerap semuanya.


Ayah yang berani mengakui emosi, berkata “Ayah sedang lelah” atau “Ayah salah, maaf ya”, sedang mengajarkan kecerdasan emosional yang sangat berharga bagi anak.


4. Keterlibatan Ayah Meningkatkan Perkembangan Kognitif Anak


Dari aktivitas sederhana seperti membaca buku, bermain balok, atau menjawab pertanyaan anak yang tak ada habisnya, ayah berperan besar dalam stimulasi kognitif.


Saya sering bermain dengan cara yang berbeda—lebih eksploratif, lebih fisik, lebih penuh tantangan. Tanpa disadari, ini membantu anak:


Mengembangkan kemampuan problem solving


Memperkaya kosakata


Meningkatkan fokus dan kreativitas


Interaksi yang berkualitas, meski singkat, jauh lebih berdampak daripada kehadiran yang lama tapi tanpa keterlibatan.


5. Ayah Membentuk Konsep Relasi dan Identitas Anak


Bagi anak perempuan, ayah adalah figur laki-laki pertama yang ia kenal. Dari ayah, ia belajar bagaimana ia seharusnya dihargai. Bagi anak laki-laki, ayah adalah cermin identitas maskulinitas yang sehat.


Cara ayah:


Berbicara pada pasangan


Menghargai perasaan


Menyelesaikan konflik


Akan membentuk cara anak memandang relasi di masa depan. Pengasuhan ayah bukan hanya berdampak hari ini, tetapi menentukan pola hubungan anak di kemudian hari.


6. Ayah Hadir dalam Rutinitas Sehari-hari


Dulu saya berpikir waktu berkualitas harus selalu istimewa. Padahal, justru rutinitas harianlah yang paling membekas.


Ayah bisa terlibat melalui:


Menemani mandi atau makan


Mengantar tidur


Mengantar ke sekolah


Mengobrol sebelum tidur


Rutinitas sederhana yang dilakukan secara konsisten membangun ikatan emosional yang kuat. Anak merasa dicintai bukan hanya di momen khusus, tetapi setiap hari.


7. Tantangan Ayah dalam Pengasuhan Anak Usia Dini


Saya tidak menutup mata—menjadi ayah yang terlibat tidak selalu mudah. Ada tuntutan pekerjaan, kelelahan, dan ekspektasi sosial.


Namun saya belajar bahwa: Kualitas lebih penting daripada kuantitas. Hadir sepenuhnya lebih bermakna daripada hadir lama. Anak tidak butuh ayah sempurna, hanya ayah yang mau belajar. Kesalahan akan terjadi. Yang terpenting adalah kemauan untuk memperbaiki dan terus hadir.


Peran ayah dalam pengasuhan anak usia dini bukan sekadar tambahan, melainkan fondasi penting perkembangan anak. Dari ayah, anak belajar tentang rasa aman, keberanian, emosi, dan hubungan.


Saya masih belajar hingga hari ini. Namun satu hal yang saya yakini: waktu, perhatian, dan kasih sayang yang ayah berikan sejak dini akan menjadi bekal seumur hidup bagi anak.


Anak mungkin lupa mainan apa yang pernah saya belikan. Tapi ia tidak akan lupa bagaimana rasanya dicintai dan ditemani oleh ayahnya.