
PARENTINGABAD21.COM -- Tangisan itu datang tiba-tiba. Di tengah antrean supermarket, anak saya menjatuhkan diri ke lantai, menangis keras, menendang, dan berteriak hanya karena saya tidak membelikan cokelat yang ia tunjuk. Wajah orang-orang mulai menoleh. Jantung saya berdegup cepat. Di kepala saya hanya ada satu dorongan: marah dan menghentikan semuanya sekarang juga.
Namun hari itu, saya tidak marah. Bukan karena saya orang tua yang sempurna, tetapi karena saya sudah terlalu sering menyesal setelah membentak. Dari pengalaman jatuh bangun menghadapi tantrum, saya belajar bahwa tantrum bukan tanda anak nakal, melainkan tanda anak sedang kewalahan dengan emosinya.
Artikel ini membahas cara mengatasi tantrum anak tanpa marah—bukan secara teoritis saja, tetapi dari pengalaman nyata yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Memahami Tantrum: Bukan Drama, Tapi Pesan Emosi
Tantrum sering disalahartikan sebagai perilaku manja atau pembangkangan. Padahal, pada anak—terutama usia balita—tantrum adalah cara mereka berkomunikasi ketika kata-kata belum cukup.
Anak bisa tantrum karena:
Lelah atau lapar
Frustrasi karena keinginannya tidak terpenuhi
Tidak mampu mengungkapkan perasaan
Terlalu banyak stimulasi
Merasa tidak dipahami
Saat itu terjadi, otak emosional anak mengambil alih. Mereka tidak sedang berpikir logis, jadi memarahi, mengancam, atau menasihati panjang lebar justru memperburuk keadaan.
1. Tenangkan Diri Sendiri Terlebih Dahulu
Pelajaran terpenting yang saya pelajari adalah ini:
Kita tidak bisa menenangkan anak jika kita sendiri tidak tenang.
Dulu saya sering langsung naik emosi. Suara meninggi, wajah tegang. Anak saya justru semakin keras menangis. Baru saya sadari, emosi itu menular.
Sekarang, saat tantrum terjadi, saya:
Menarik napas dalam-dalam
Mengingatkan diri: “Dia sedang kesulitan, bukan menyulitkan.”
Menurunkan suara, bukan menaikkannya
Mengendalikan emosi orang tua adalah langkah pertama dan paling krusial.
2. Pastikan Anak Aman, Bukan Langsung Menasihati
Saat anak mengamuk, prioritas utama bukanlah membuatnya diam, tetapi memastikan ia aman—tidak melukai diri sendiri atau orang lain.
Jika ia berguling di lantai atau melempar barang, saya mendekat dan menyingkirkan benda berbahaya. Saya tidak langsung berbicara panjang, karena otaknya belum siap menerima nasihat.
Tindakan ini memberi pesan nonverbal: “Aku ada di sini. Kamu aman.”
3. Akui Perasaan Anak, Jangan Menyangkalnya
Kesalahan yang dulu sering saya lakukan adalah berkata:
“Jangan nangis, itu sepele.”
“Kamu berlebihan.”
Kalimat-kalimat ini justru membuat anak merasa tidak dipahami.
Sekarang saya belajar memvalidasi perasaannya:
“Kamu marah karena tidak dibelikan cokelat, ya.”
“Kamu kecewa karena harus pulang sekarang.”
Mengakui perasaan tidak sama dengan menyetujui perilaku. Tetapi validasi membuat anak merasa dimengerti, sehingga emosinya lebih cepat mereda.
4. Hadir Secara Fisik dan Emosional
Tidak semua anak ingin dipeluk saat tantrum. Ada yang justru menolak sentuhan. Saya belajar membaca sinyal anak saya.
Saya tetap berada di dekatnya, dengan posisi sejajar, suara lembut, dan bahasa tubuh terbuka. Kadang saya berkata:
“Ayah di sini.”
“Kalau sudah siap, kita bicara.”
Kehadiran tanpa paksaan memberi anak ruang untuk menenangkan diri, sekaligus rasa aman bahwa ia tidak ditinggalkan.
5. Jangan Memberi Ceramah di Tengah Tantrum
Dulu saya berpikir, semakin cepat saya menasihati, semakin cepat anak belajar. Ternyata salah besar.
Saat tantrum, bagian otak yang bertugas berpikir rasional sedang “offline”. Ceramah hanya akan masuk telinga kiri keluar telinga kanan—atau bahkan tidak masuk sama sekali.
Saya menunggu sampai anak:
Napasnya melambat
Tangisnya reda
Kontak mata mulai kembali
Barulah saya berbicara perlahan.
6. Bantu Anak Menamai Emosinya
Setelah anak lebih tenang, saya mulai membantu ia mengenali emosinya:
“Tadi kamu marah dan kecewa.”
“Perasaan itu tidak enak, ya.”
Dengan begitu, anak belajar bahwa:
Emosi itu wajar
Emosi bisa diberi nama
Emosi bisa dibicarakan, bukan diluapkan dengan ledakan
Ini adalah langkah penting dalam membangun kecerdasan emosional anak.
7. Tegas Tanpa Marah
Mengatasi tantrum tanpa marah bukan berarti selalu mengalah. Batasan tetap penting.
Saya menyampaikan batasan dengan suara tenang:
“Cokelat tetap tidak dibeli.”
“Menangis boleh, memukul tidak boleh.”
Ketegasan yang disampaikan dengan tenang justru lebih kuat daripada teriakan. Anak belajar bahwa orang tua konsisten, tetapi tetap penuh kasih.
8. Evaluasi Setelah Tantrum Berlalu
Setelah semuanya selesai, saya sering merenung:
Apakah anak kurang tidur?
Apakah jadwalnya terlalu padat?
Apakah saya kurang memberi perhatian hari itu?
Tantrum sering kali adalah sinyal kebutuhan yang belum terpenuhi. Dengan evaluasi, saya bisa mencegah tantrum serupa di kemudian hari.
Menghadapi tantrum tanpa marah bukan hal mudah. Ada hari ketika saya gagal dan meninggikan suara. Namun saya belajar meminta maaf pada anak. Dan itu pun bagian dari pembelajaran emosional.
Tantrum bukan tanda kegagalan orang tua. Justru, ia adalah kesempatan untuk:
Mengajarkan regulasi emosi
Membangun ikatan emosional
Menjadi contoh pengelolaan emosi yang sehat
Anak yang ditenangkan, bukan dimarahi, akan tumbuh menjadi pribadi yang mampu menenangkan dirinya sendiri kelak.***