
PARENTINGABAD21.COM -- Sore itu saya duduk di samping anak saya yang sedang mengerjakan tugas sederhana. Lima menit pertama ia terlihat serius. Lima menit berikutnya pensilnya berubah menjadi “pesawat”, lalu matanya melayang ke jendela.
Saya spontan berkata, “Kok susah sekali fokus?” Nada saya mulai meninggi. Ia menunduk. Saat itulah saya sadar, mungkin yang perlu berubah bukan hanya anak saya—tetapi cara saya memahaminya.
Banyak orang tua pernah berada di situasi yang sama. Anak terlihat mudah terdistraksi, sulit menyelesaikan tugas, atau cepat bosan. Kita sering menyimpulkan bahwa anak malas atau tidak disiplin. Padahal, di balik sulitnya fokus, ada banyak faktor yang perlu dipahami lebih dalam.
Fokus Bukan Sekadar Duduk Diam
Saya dulu berpikir fokus berarti anak duduk tenang dan mengerjakan sesuatu tanpa gangguan. Namun seiring waktu, saya belajar bahwa fokus adalah kemampuan kompleks yang melibatkan:
- Kematangan otak
- Regulasi emosi
- Kondisi fisik
- Lingkungan sekitar
- Pola asuh
Anak bukan miniatur orang dewasa. Rentang perhatian mereka memang lebih pendek. Anak usia dini, misalnya, secara alami hanya mampu berkonsentrasi beberapa menit sesuai usianya. Ketika ekspektasi kita terlalu tinggi, anak justru merasa tertekan.
Penyebab Anak Sulit Fokus
1. Kurang Tidur
Saya teringat hari-hari ketika anak tidur lebih larut dari biasanya. Keesokan harinya, ia lebih rewel dan sulit diarahkan. Kurang tidur memengaruhi fungsi otak, daya ingat, dan kestabilan emosi. Anak yang lelah sulit memproses informasi dengan baik.
Solusi praktis:
- Tetapkan jam tidur konsisten
- Kurangi paparan layar sebelum tidur
- Ciptakan rutinitas malam yang menenangkan
Tidur cukup adalah fondasi fokus yang sering terabaikan.
2. Terlalu Banyak Distraksi
Rumah modern penuh rangsangan: televisi menyala, notifikasi gawai berbunyi, suara lalu lalang. Saya pernah meminta anak belajar sambil televisi tetap hidup. Hasilnya bisa ditebak.
Solusi praktis:
- Siapkan sudut belajar yang tenang
- Jauhkan gawai saat waktu belajar
- Rapikan meja agar tidak terlalu ramai
Lingkungan sederhana membantu otak anak bekerja lebih efektif.
3. Terlalu Lama Duduk Tanpa Jeda
Anak secara alami aktif bergerak. Meminta mereka duduk lama tanpa istirahat sama seperti meminta ikan memanjat pohon.
Solusi praktis:
- Terapkan metode belajar singkat (15–25 menit)
- Beri jeda untuk bergerak atau minum
- Gunakan timer agar anak tahu kapan waktu istirahat
Saya melihat perubahan besar ketika belajar dibagi menjadi sesi kecil.
4. Beban Emosi yang Tidak Tersampaikan
Suatu hari anak saya sulit fokus. Setelah saya ajak bicara, ternyata ia sedang bertengkar dengan temannya. Ternyata bukan soal pelajaran—tetapi soal perasaan.
Anak yang cemas, sedih, atau marah akan kesulitan berkonsentrasi.
Solusi praktis:
- Tanyakan perasaan anak sebelum belajar
- Dengarkan tanpa menghakimi
- Beri waktu anak menenangkan diri
Fokus tumbuh dari hati yang tenang.
5. Pola Makan Kurang Seimbang
Saya pernah melewatkan camilan sehat sebelum anak belajar. Ia cepat lelah dan mudah terganggu. Otak membutuhkan energi stabil untuk bekerja.
Solusi praktis:
- Sediakan camilan sehat sebelum belajar
- Pastikan anak cukup minum air
- Hindari gula berlebihan yang memicu lonjakan energi sesaat
- Energi yang stabil membantu konsentrasi lebih lama.
6. Gaya Belajar Tidak Sesuai
Tidak semua anak belajar dengan cara yang sama. Ada yang visual, auditori, atau kinestetik. Saya dulu memaksa anak membaca terus, padahal ia lebih mudah memahami lewat gambar dan praktik langsung.
Solusi praktis:
- Gunakan variasi metode belajar
- Libatkan gambar, permainan, atau gerakan
- Biarkan anak mencoba cara yang membuatnya nyaman
Belajar yang sesuai gaya anak terasa lebih ringan dan menyenangkan.
7. Ekspektasi Terlalu Tinggi
Saya pernah berharap anak bisa menyelesaikan tugas dengan sempurna. Tanpa sadar, tekanan saya membuatnya cemas. Ketika anak takut salah, fokusnya terganggu.
Solusi praktis:
- Fokus pada proses, bukan hasil
- Apresiasi usaha kecil
- Hindari membandingkan dengan anak lain
Anak yang merasa aman secara emosional lebih mudah berkonsentrasi.
8. Kurangnya Rutinitas
Hari-hari tanpa jadwal membuat anak bingung dan sulit menyesuaikan diri. Ketika waktu belajar berubah-ubah, otak anak tidak memiliki pola yang jelas.
Solusi praktis:
- Buat jadwal harian sederhana
- Tentukan waktu tetap untuk belajar
- Konsisten, tetapi tetap fleksibel jika diperlukan
- Rutinitas memberi rasa aman dan prediktabilitas.
Mengubah Sudut Pandang Orang Tua
Perubahan terbesar justru terjadi ketika saya berhenti melihat “sulit fokus” sebagai masalah, dan mulai melihatnya sebagai sinyal. Sinyal bahwa ada kebutuhan anak yang belum terpenuhi.
Alih-alih berkata, “Kenapa kamu tidak bisa fokus?”, saya mulai bertanya, “Apa yang membuatmu sulit berkonsentrasi hari ini?”
Perubahan kalimat itu sederhana, tetapi dampaknya besar. Anak merasa didengar, bukan disalahkan.
Peran Emosi Orang Tua
Saya juga menyadari bahwa fokus anak sangat dipengaruhi suasana hati saya. Jika saya tegang, anak ikut tegang. Jika saya sabar, anak lebih tenang.
- Tips praktis untuk orang tua:
- Tarik napas sebelum bereaksi
- Jangan mendampingi saat emosi memuncak
- Ingat bahwa proses lebih penting daripada kecepatan
Kehadiran yang tenang adalah dukungan terbesar bagi anak.
Kapan Perlu Konsultasi?
Sebagian besar kesulitan fokus bersifat situasional dan dapat diatasi dengan perubahan kebiasaan. Namun jika anak:
- Sulit fokus di hampir semua situasi
- Sangat impulsif
- Mengalami kesulitan akademik signifikan
- Menunjukkan gangguan perilaku ekstrem
maka konsultasi dengan tenaga profesional dapat membantu memastikan tidak ada kondisi perkembangan tertentu yang perlu ditangani lebih lanjut.
Kini, ketika anak saya mulai terdistraksi, saya tidak lagi panik. Saya melihatnya sebagai bagian dari proses tumbuh. Fokus bukan kemampuan yang muncul tiba-tiba, tetapi keterampilan yang berkembang perlahan.
Anak yang sulit fokus bukan anak yang gagal. Ia mungkin hanya lelah, bosan, cemas, atau belum menemukan cara belajar yang tepat. Tugas kita sebagai orang tua bukan memaksa fokus, melainkan menciptakan kondisi yang mendukungnya.***